Friday , August 23 2019
Home / REDAKSI / Kapal Motor Milik Pemkab Sumenep Ini Dikabarkan Dijual

Kapal Motor Milik Pemkab Sumenep Ini Dikabarkan Dijual

Kapal Motor Milik Pemkab Sumenep Ini Dikabarkan Dijual

Redaksi B 571

30 Juli 2019

 

 

 

 

 

KM DBS II di pelabuhan kalianget

 

LPKBERANTAS.co.id -Sumenep, Keberadaan kapal  Penumpang untuk wilayah  kabupaten Sumenep yang memiliki  gugusan pulau  menjadikan  syarat utama untuk memenuhi kebutuhan sarana tranportasi laut sebagai penghubung antar  pulau,  untuk memiliki kapal yang mumpuni  guna memenuhi  sarana tranpostasi  laut. “ Karena letak Giografis  kabupaten sumenep  berada diantara gugusan pulau yang menjadi pendukung  ekonomi , social budaya masyarakat sumenep.

Keberadaan  Kapal motor  Penumpang  menjadi  prioritas  utama untuk kabupaten yang berada diujung timur pulau Madura ini, karena jumlah penduduk di kabupaten sumenep  45% berada di kepulauan.Sehingga menuntut pemerintah kabupaten sumenep untuk memenuhi keberadaan  Kapal penumpang yang menjadi tulang punggung masyarakat kepulauan khususnya.

Pada tahun Anggaran , APBD  2011 Kabupaten Sumenep menggangarkan  untuk pembelian  dua unit kapal penumpang  yang bernama DBS ( Dharma Bhakti Sumekar 1 dan 2 ) “ namun keberadaan  KMP tersebut  mengalami banyak masalah  karena kondisi kapal yang di beli kurang memenuhi standarisasi  Layak laut. Sehingga selalma beberapa tahun kapal  DBS 2 mengalami banyak renovasi yang pada akhirnya, nasib  DBS 2, mengalami  kegagalan  dalam memenuhi kebutahan masyarakat kepulauan sebagai penguna jasa tranportasi laut.

 

Pada akhir hayatnya  bahwa Kapal Motor (KM) Darma Bhakti Sumekar (DBS) II dijual pada pengusaha besi tua. Konon, harganya mencapai Rp 5,8 miliar.Indikasi penjualan semakin kuat, posisi kapal saat ini sudah bergeser dari semula berada di pelabuhan milik PT Garam, saat ini sudah berada di dekat Kantor Pos Polairut.Namun kabar dijualnya kapal milik Pemkab Sumenep itu dibantah oleh Direktur Operasional PT Sumekar, Akhmad Zainal Arifin, bahwa saat ini belum ada penjualan apapun.

“Tidak benar, sampai saat ini belum ada ke kita, kita belum tahu, di jajaran Direksi belum juga. Lalu dapat dari mana harga itu, kalau tidak melalui proses lelang jelas tidak sesuai aturan,” tegasnya.Namun demikian, Zainal megakui pihaknya berencana untuk menjual kapal tersebut, hanya saja proses penjualan itu akan dilakukan dengan mekanisme yang diatur dalam peraturan.

Sesuai  dengan, proses penjulan harus melalui proses panjang. Pertama PT Sumekar harus mendatangkan lembaga penafsir harga (tim appraisal), setelah itu masih melakukan rapat pemegang saham guna merencanakan penjualan. “Baru setelah itu proses lelang dilakukan. Susah ya, kami dua kali mencari (tim appraisal), tapi gagal,” imbuhnya.

Kapal DBS II merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten Sumenep yang dikelola oleh PT Sumekar selaku badan usaha milik daerah (BUMD). Sejak beberapa tahun, kapal tersebut mangkrak di Pelabuhan Kalianget.

Kapal Mangkrak di Pelabuhan Kalianget, Diduga Diloakkan ke Pengusaha Besi Tua, PT Sumekar Membantah

KMP DBS II ditambatkan dipelabuhan Kalianget, sebelah selatan Kantor Polairut. Kamis (25/7/2019).  KMP Darma Bhakti Sumekar (DBS) II diduga telah dijual pada salah satu pengusaha besi tua, sebab kapal yang sudah tak beroperasi itu mangkrak di pelabuhan Kalianget, SumenepMadura.

“Itu sudah dijual ke pengusaha besi tua, harganya Rp 5,8 Miliar,” kata Syarkawi, salah satu warga yang mengaku asal Kecamatan Kalianget.

Di tempat terpisah Direktur Operasional PT Sumekar, Akhmad Zainal Arifin menampik, kabar dijualnya Kapal DBS II pada pengusaha besi tua tersebut.”Itu tidak benar ya, dan sampai saat ini belum ada kabar ke kita. Bahkan di jajaran Direksi belum juga, lalu dapat dari mana harga sebanyak itu dan kalau tidak melalui proses lelang jelas tidak sesuai aturan,” tegasnya.

Pihaknya mengaku jika sudah berencana untuk menjual kapal yang telah lama mangkrak itu. Namun, proses penjualan itu akan dilakukan dengan mekanisme yang diatur.

Proses penjualan itu kata dia, harus melalui proses panjang, pertama kata :” Zainal , PT Sumekar harus mendatangkan lembaga penafsir harga (tim appraisal) dan setelah itu masih melakukan rapat pemegang saham guna merencanakan penjualan.”Baru setelah itu proses lelang dilakukan dan sekarang masih dalam proses mencari tim appraisal. Susah cari appraisal dua kali, tapi belum ada,” paparnya.

Selainitu katanya, Kapal MMP DBS II terkendala biaya sewa tempat yang setiap tahun selalu naik.“Sewa tempat itu setiap tahun naik, tahun ini berkisar diangka Rp 23 juta. Makanya dipindah,” ucapnya.Untuk diketahui, Kapal KMP DBS II merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten Sumenep yang dikelola oleh PT Sumekar dan selaku badan usaha milik daerah (BUMD).KMP DBS II mangkrak sejak 2012 lalu, dan hari ini posisinya dipindah ke sebelah selatan Kantor Polairut Kalianget  yang sebelumnya  berada di utara di darmaga milik PT .Garam . Kapal Darma Bhakti Sumekar (DBS) II dikabarkan dijual kepada pengusaha besi tua. Terjualnya  kapal  DBS 2 karena  Kondisi  badan kapal sudah sangat tidak layak untuk  dipertahankan  karena sudah lapuk dimakan usia , Masyarakat  disekitar pelabuhan  Kalianget beranggapan bahwa KMP DBS 2 Telah dijual  kepengusaha besi tua.

Syarkawi, salah satu tokoh masyarakat Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget. Meng-iyakan adanya  kabar kasak kusuk  yang berkembang dikalangan masyarakat. “  Dikonfirmasi terpisah, Direktur Operasional PT. Sumekar, Akhmad Zainal Arifin, membantah kabar tersebut.  jika kapal DBS II telah dijual pada pengusaha besi tua.

“Tidak benar, sampai saat ini belum ada  laporan  dari jajaran Direksi “ Pihaknya memang berencana menjual kapal tua itu. Namun, proses penjualan itu akan dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Lebih lanjut,  sesuai aturan, proses untuk menjual salah satu aset tersebut harus melalui proses panjang. Pertama, PT. Sumekar harus mendatangkan lembaga penafsir harga.

Di internal harus melakukan rapat umum pemegang saham luar biasa dan melaporkannya ke pihak legislatif. Setelah itu, pihaknya bisa melakukan proses lelang. Sementara proses yang dilalui saat ini, masih dalam proses mencari tim penafsir harga. “Susah cari apresel, dua kali, tapi belum ada,” tegasnya.

Menanggapi dipindahnya kapal, Zainal menyebut hal itu karena mahalnya biaya sewa pelabuhan. Kata dia, harga sewa pelabuhan milik PT. Garam saat ini mencapai Rp23 juta per tahun.“Sewa tempat itu setiap tahun naik, tahun ini mencapai diangka Rp23 juta. Makanya dipindah, ”jelasnya tanpa biaya detail saat ini.Untuk Diketahui, Kapal DBS II merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten Sumenep yang dikelola oleh PT Sumekar selaku badan usaha milik daerah (BUMD). Karena beberapa tahun, kapal tersebut rusak karena rusak. (Bakri 571)

 

About admin

Periksa juga

Kapal DBS 1 Sempat Hilang Kontak

Kapal DBS 1  Sempat Hilang Kontak LPKBERANTAS. B571 Sabtu, 17 Agustus 2019      Penumpang DBS …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *